Teman Huo Jun ingin menyerang Lynx, namun, sebelum pukulan itu sempat mengenai Lynx, tubuh teman Huo Jun melayang ke belakang karena tendangan cepat Lynx yang mendarat di perutnya. Pria itu jatuh berguling di tanah, mengerang kesakitan.

"Kurang ajar!" teriak teman-teman Huo Jun yang lain, langsung maju serentak untuk menyerang Lynx.

Tapi Lynx tidak mundur. Dengan gerakan sederhana namun efektif, dia menendang dan memukul mereka satu per satu hingga semua terjatuh, meringkuk kesakitan di tanah. Meskipun Lynx kehilangan ingatannya, nalurinya untuk melindungi Jelita tetap kuat.

"Kalau kalian ingin menyakitinya, kalian harus melewatiku dulu," ujar Lynx dingin, berdiri tegap di depan Jelita yang terdiam melihat apa yang terjadi.

"Bagaimana mungkin idiot ini bisa sekuat itu? Bukankah waktu kita memukulinya kemarin, dia tidak bisa melawan?" bisik salah satu teman Huo Jun dengan nada ketakutan.

Mendengar itu, mata Jelita membelalak. "Apa? Kalian memukuli Xiao Lin? Jadi kalian yang sudah melukainya!" teriaknya, amarah membakar di matanya. Dia melangkah maju dengan niat memukul salah satu dari mereka, tetapi Lynx segera menahan tangannya.

Lynx menoleh dan tersenyum lembut ke arah Jelita. "Kamu tidak perlu turun tangan untuk menghadapi orang seperti mereka. Cukup aku saja," katanya dengan tenang, berusaha menenangkan amarahnya.

Jelita menatap Lynx, lalu memandang Huo Jun dan teman-temannya yang sudah babak belur akibat serangan balik Lynx. Dengan suara pelan namun penuh amarah, dia bergumam, "Orang seperti kalian tidak pantas menyentuhnya." Meski suaranya hampir tak terdengar, tetapi ketegasan dalam nada bicaranya membuat Huo Jun merasa terhina.

Huo Jun yang sebelumnya penuh percaya diri kini berdiri pucat. Ancaman Lynx dan sikap tegas Jelita telah membuatnya kehilangan muka di depan orang-orang di pasar. Meski begitu, gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui kekalahan. Dia menunjuk Lynx dengan penuh amarah. "Ingat ini, Xiao Lin! Kau akan menyesal telah melawanku!" ancamnya, sebelum pergi terburu-buru bersama teman-temannya yang masih meringis kesakitan.

Setelah mereka pergi, Lynx menoleh ke Jelita yang masih terlihat marah. "Kamu tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa," ujarnya dengan tenang.

Namun, Jelita hanya mengangguk sambil menggenggam tangannya erat. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu lagi, Lynx," batinnya, rasa kasih sayangnya semakin dalam untuk pria yang berdiri di hadapannya.

Para pedagang yang menyaksikan kejadian itu diam, tidak berani memberikan komentar. Tapi di dalam hati mereka, ada rasa puas melihat Lynx berani melawan Huo Jun yang selama ini suka bertindak semena-mena.

Jelita memandang Lynx dengan campuran rasa terima kasih dan kekhawatiran. "Kepala suku... eh, Xiao Lin... apa kau baik-baik saja?" tanyanya pelan.

Lynx menatapnya, kembali dengan ekspresi tenang seperti biasa. "Aku baik-baik saja. Mereka tidak menyakitiku," jawabnya singkat. Tapi dalam hatinya, dia merasa marah dan tidak tahu kenapa. Jika Jelita disakiti, dia tidak bisa menahan amarahnya, tapi jika dirinya sendiri diserang, dia berpikir mungkin dia memang pantas menerimanya karena tidak ingat kesalahan apa yang pernah dia buat.

Jelita hanya bisa menunduk, merasa bersalah karena Lynx harus menghadapi situasi itu demi dirinya.

Setelah lewat tengah hari, Lynx dan Jelita memutuskan untuk pulang. Lynx membawa beberapa keranjang berisi hasil jualan mereka, sementara Jelita menggandeng lengannya dengan lembut. Saat melewati toko obat di tepi jalan, Jelita berhenti sejenak.

"Lynx, tunggu sebentar. Aku perlu membeli obatmu," katanya. Lynx hanya mengangguk, membiarkan Jelita masuk ke toko sementara dia menunggu di luar.

Di dalam toko, pemilik toko, seorang pria tua dengan jenggot panjang dan mata menyipit curiga, mendengus saat melihat Jelita masuk. "Ah, Yun Qing. Lagi-lagi kau datang. Apa kau belum lelah membeli ramuan yang sama terus-menerus?" katanya dengan nada sinis.

Jelita tersenyum tipis, menahan dirinya untuk tidak terpancing. "Aku hanya melakukan yang terbaik untuk suamiku, Pak. Berapa harganya kali ini?" tanyanya sambil menyodorkan koin-koin tembaga yang telah disiapkannya.

Pemilik toko menggeleng pelan sambil menatapnya dengan tajam. "Bukankah aku sudah bilang, kau harus mencari usaha lain? Bisnismu menjual herbal itu mengganggu pelanggan tetapku. Penjualanku menurun karena orang-orang memilih ramuanmu yang murah!"

Jelita menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara tenang, "Aku sedang berusaha mencari pekerjaan lain. Terima kasih atas sarannya." Dia tidak ingin berdebat lebih jauh. Pemilik toko itu adalah satu-satunya orang yang menyediakan ramuan yang dibutuhkan Lynx setiap hari. Meski dibebani sikap tidak ramah, Jelita tetap berusaha bersabar.

Setelah menerima ramuan dan membayar, Jelita keluar dari toko dengan senyum yang dipaksakan. Dia meraih lengan Lynx lagi. "Ayo, kita pulang," katanya pelan.

***

Sore harinya, suasana rumah mereka yang sederhana menjadi tegang ketika seorang pembantu keluarga Huo muncul dengan wajah masam. Pembantu itu menyeret tumpukan cucian yang telah selesai dikerjakan Jelita, lalu melemparkan beberapa koin tembaga ke meja kayu di dekat pintu.

"Ini upahmu. Tapi aku ingin kau tahu, mulai sekarang, keluarga Huo tidak akan lagi menggunakan jasamu," katanya dengan nada tajam.

Jelita menatapnya heran. "Kenapa? Apa ada yang salah dengan pekerjaanku?" tanyanya, mencoba menjaga ketenangannya.

Pembantu itu mendengus. "Tuan muda Huo Jun bilang suamimu menyerangnya di pasar tanpa alasan. Katanya dia berbahaya karena penyakitnya yang membuatnya lupa ingatan dan menggila. Kami tidak mau mengambil risiko. Keluarga Huo tidak ingin ada masalah lagi."

Jelita mengepalkan tangannya, menahan amarah. "Itu bohong. Xiao Lin hanya membela diri, kalian bisa bertanya kepada orang di pasar!" katanya tegas.

Namun, pembantu itu hanya tertawa kecil, lalu melanjutkan dengan nada meremehkan, "Kamu pikir keluarga Huo akan percaya? Kalau kau mau, ada satu cara agar kami melupakan kejadian ini. Tinggalkan suamimu yang sakit itu, menikahlah dengan tuan muda Huo Jun. Hidupmu akan jauh lebih baik, daripada bersama pria gila sepertinya."

Mendengar itu, darah Jelita mendidih. Tanpa berpikir panjang, dia menampar pipi pembantu itu dengan keras hingga wajahnya memerah. "Jangan pernah katakan hal seperti itu lagi! Aku tidak akan meninggalkan suamiku, apalagi untuk pria seperti Huo Jun!" serunya dengan mata berkilat.

Pembantu itu memegangi pipinya yang sakit, lalu mendelik marah. "Kau akan menyesal telah melakukan ini!" katanya sebelum bergegas pergi dengan membawa cucian, meninggalkan koin tembaga yang berserakan di lantai.

Jelita berdiri di tempatnya, napasnya memburu. Lynx yang mendengar suara keras dari dalam rumah keluar dan melihat Jelita berdiri dengan ekspresi marah. "Ada apa, Yun Qing?" tanyanya lembut.

Jelita memandang Lynx, lalu menggeleng sambil tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Hanya orang-orang yang tidak tahu bagaimana caranya menghargai kerja keras kita," katanya. Dia memungut koin tembaga di lantai, menenangkan dirinya, dan berusaha untuk tidak menunjukkan rasa frustasi yang menumpuk di hatinya.

Jelita masuk ke kamar dengan langkah berat, mengambil handuknya untuk mandi. Wajahnya masih memerah, bukan karena panas melainkan akibat emosinya yang belum mereda. Dia menutup pintu dengan agak keras dan melepaskan pakaiannya yang penuh debu dan bau cucian.

Sambil mengguyur tubuhnya dengan air dingin, Jelita memikirkan ucapan pembantu keluarga Huo tadi. "Beraninya mereka menghina Lynx... dan aku. Mereka pikir aku bisa dibeli dengan uang? Memuakkan!" gumamnya kesal. Dia meremas handuk di tangannya, membayangkan wajah Huo Jun yang menjengkelkan.

Namun, di balik kemarahannya, Jelita tak bisa menahan rasa khawatir. Uang untuk membeli obat Lynx kini menjadi masalah besar. "Kalau hanya mengandalkan hasil jualan herbal saja tidak akan cukup, apa yang harus kulakukan?" batinnya, mendesah panjang.

Dia mulai menghitung pengeluaran mereka selama ini dalam pikirannya. Untuk makan, beras adalah satu-satunya barang yang harus dibeli. Sisanya, dia selalu mencari di hutan. Namun, untuk obat Lynx... Hanya cukup di dapatkan dari uang hasil mencuci pakaian. Tidak ada jalan lain, dia harus berusaha lebih keras lagi menjual tanaman herbal yang dia petik.

Setelah selesai mandi, Jelita melilitkan kain bersih di tubuhnya dan kembali ke kamar untuk mengganti pakaian. Karena melamun memikirkan masalah keuangan, dia tidak menyadari bahwa Lynx sedang berada di dalam kamar, duduk di sudut sambil mengikat tali sepatunya.

Saat dia meletakkan handuknya di samping meja dan mengambil pakaian ganti, secara tidak sengaja dia menoleh ke cermin kecil di meja kayu, mata Jelita bertemu dengan pantulan Lynx di cermin. Dia tertegun, tubuhnya membeku sesaat sebelum berbalik dengan tergesa-gesa. "Lynx! Kenapa kamu ada di sini?" serunya dengan suara tinggi, wajahnya memerah karena malu dan kaget.

